Mesin Pintar, Media Sosial, dan Iman Kristen

credit: Scripture Union

Telepon Pintar Sebagai Kebutuhan Hidup

Kehidupan manusia kini sudah mulai sulit dijauhkan dari perangkat teknologi informasi. Data statistik membuktikan penggunaan telepon pintar terus meningkat di berbagai negara, juga disertai terus meningkatnya data lalu lintas telepon pintar. Pesatnya pertumbuhan dan pemakaian telepon pintar merupakan tren dunia saat ini yang memperlihatkan kebutuhan "all in one" berupa hiburan, sosialisasi, bisnis, pendidikan, keagamaan, dan informasi lainnya yang terintegrasi.

Para ahli teknologi informasi terus berinovasi untuk menyajikan kemudahan melalui berbagai aplikasi sekali klik, sehingga dalam hitungan detik kita bisa mendapatkan kemudahan yang menjawab kebutuhan hidup. Mereka berusaha mengintegrasikan segala urusan hidup manusia dalam suatu sistem digital. Hasilnya, segala urusan pendidikan, keuangan, kesehatan, bisnis, sosialisasi, transportasi, konsultasi, makanan, bahkan religius menjadi gampang diakses hanya dalam satu telepon pintar yang kecil.

Bagi beberapa orang, telepon pintar menjadi "asisten" di mana data penting untuk berbagai kegiatan bisnis dan sosial dapat disimpan dan mengingatkan apa yang seharusnya dilakukan selanjutnya. Selain itu, melalui berbagai aplikasi telepon pintar, pengguna bisa menjadikannya sebagai media hiburan, obrolan, alat deteksi kesehatan, alat melihat CCTV di rumah, dan media sosial yang pada akhirnya berujung menjadi kebutuhan hidup manusia modern.

Urusan hidup manusia sedang menuju digitalisasi super canggih. Manusia dan internet akan sulit dipisahkan. Ketergantungan manusia dengan mesin-mesin pintar akan sulit dilepaskan. Manusia hidup dalam lingkungan serba otomatis. Di masa yang akan datang, kita beserta benda-benda di sekitar kita dapat terhubung tanpa kabel dan saling memberikan data untuk memudahkan segala urusan. Sistem digitalisasi yang sudah mapan ini sulit mundur dan bahkan terus berinovasi sampai pada akhirnya manusia akan benar-benar sulit lepas dari mesin-mesin pintar.

Digitalisasi Mewarnai Hidup Kita

Ciri khas manusia hidup adalah selalu berinovasi, bahkan berlomba-lomba untuk menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Mesin-mesin pintar selalu mengalami penyempurnaan sehingga semakin canggih, semakin cepat memproses, semakin tipis, semakin tahan lama tenaganya, semakin kuat sinyalnya, dan semakin hebat. Manusia menciptakan mesin-mesin pintar agar bisa merespons segala perintah manusia dengan pintar melalui interaksi sentuhan, pengenalan suara, pengenalan wajah, dan lain sebagainya. Sekeliling hidup kita dipenuhi oleh benda-benda pintar seperti "smartwatch", "smartphone", "smartglasses", "smartcar", "smartcamera", dan sebagainya yang serba pintar. Manusia menciptakan benda-benda pintar yang bertujuan untuk membantu dan memudahkan aktivitas hidupnya sehingga merasa nyaman dengan segala fasilitas mesin pintar tersebut. Digitalisasi mewarnai segala urusan hidup manusia dalam lingkungan serba pintar, instan, dan super cepat.

Dunia informasi semakin terbuka, transparan, tanpa batas, dan menjadi global dengan digitalisasi. Manusia lebih mudah mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Media informasi seperti media sosial dan multimedia sangat memengaruhi kehidupan manusia modern.

Mesin-mesin pintar digital selain membantu dan memudahkan hidup manusia, juga memberikan kenikmatan tersendiri bagi para penggunanya, seperti melepaskan perasaan senang dan sedihnya pada dinding Facebook, bermain permainan internet dan media sosial, berselancar di web dan mesin pencari, kebebasan menonton video di YouTube, dan sebagainya, yang telah menjadi candu digital tersendiri. Dunia sudah dan terus dipenuhi oleh mesin-mesin pintar yang berinteraksi dengan manusia.

Manusia modern dikendalikan oleh media informasi digital. Bahkan informasi tersebut sering kali masuk tanpa filter sehingga menjadi norma kehidupan kita. Manusia menciptakan mesin-mesin pintar untuk memudahkan hidupnya, tetapi kemudian mesin-mesin pintar itulah yang membentuk atau mewarnai pikiran manusia.

Peperangan Rohani Era Digital

Telepon pintar dan media sosial sebagai kebutuhan masyarakat pascamodern saat ini menjadi alat yang penting, efektif, dan strategis bagi banyak lembaga untuk mempropagandakan atau menyebarluaskan ide-idenya dan memengaruhi massa dalam jumlah yang sangat besar.

Lembaga nongerejawi telah menggunakan teknologi informasi untuk menyebarkan berbagai konten pornografi, gambar-gambar sekularisme, animasi konsumerisme, video hedonisme, tulisan-tulisan pragmatisme, iklan materialisme, dan berbagai konten lainnya yang bermaksud menjauhkan manusia dari Allah. Nabi-nabi palsu modern paling suka menggunakan media sosial, internet, telepon pintar dan komputer sebagai corong untuk mengecohkan pikiran manusia menjauh dari Allah.

Berselancar di internet menjadi sumber solusi bagi banyak orang dengan menghabiskan waktu berjam-jam bermain internet, mengobrol melalui multimedia atau media sosial. Internet sering menjadi pelarian untuk pornografi, permainan video kekerasan, praktik-praktik peramalan, ajaran radikal, dan tempat mencari jawaban instan tanpa menghargai proses.

Secara tidak disadari dan terjadi dengan perlahan-lahan atau cepat, manusia berpindah keyakinan dari ketergantungan kepada Allah menjadi ketergantungan pada Google, media sosial, permainan internet, situs-situs internet, dan mesin-mesin pintar.

Kita seharusnya menyadari bahwa peperangan rohani saat ini sudah memasuki wilayah dunia maya era digital. Sudah saatnya gereja membentuk bidang pelayanan multimedia teknologi informasi untuk memberitakan kabar baik. Jika gereja tidak andal dalam pelayanan multimedia teknologi informasi dalam mengajak manusia menerima dan mendekat pada Tuhan Yesus, dunia akan terus mengajarkan manusia menolak Tuhan Yesus dengan multimedia yang sangat profesional. Gereja sebaiknya mulai gencar menggunakan media sosial untuk memberikan pesan atau konten kristianinya secara kreatif, mengajar dan memberitakan Injil.

Dampak Negatif Media Sosial

Di era digital ini, hampir setiap orang memiliki telepon pintar dan media sosial. Hal ini karena kita sebagai makhluk sosial membutuhkan alat-alat komunikasi yang memudahkan berkomunikasi dengan bebas, tanpa batas wilayah, dan murah. Selain berdampak positif, media sosial juga berdampak negatif. Dampak positif akan menjadi kecil dan dampak negatifnya bisa bertambah besar tergantung pada bagaimana seseorang menggunakan media sosial secara bijaksana.

Media sosial menjadi candu digital. Hal ini sudah dibuktikan dengan adanya pusat rehabilitasi di berbagai negara seperti Jepang dan Jerman bagi pemulihan para pecandu digital, internet, permainan internet, dan media sosial lainnya. Orang yang kecanduan media sosial akan menghabiskan waktunya berjam-jam di depan perangkat ("gadget") mereka, terlambat tidur, saat internet mati serasa HP tidak berguna, tanpa internet hidup menjadi bosan, melupakan waktu makan, waktu berdoa, waktu belajar, dan bersosialisasi di dunia nyata semakin berkurang. Hal ini akan diikuti dengan produktivitas hidup yang mulai menurun dikarenakan berkurangnya waktu untuk mengembangkan diri.

Internet, mesin pencari, media sosial adalah dunia maya yang dahsyat, kita bisa bertanya dan mendapatkan info apa pun secara instan, kita memiliki akses terhadap pengetahuan dunia di ujung jari kita. Semua informasi sangat terbuka, sehingga kita mudah diombang-ambingkan oleh berbagai paham dunia, bahkan kita mudah disesatkan dan dijauhkan dari Yesus.

e-Pornografi menjadi proyek tingkat tinggi yang merusak otak dan moral, serta beredar secara bebas. e-Pornografi bersifat adiktif, mudah didapatkan, online 24/7, bersifat interaktif, terbuka tanpa batas, tanpa sensor, datang secara sporadis dalam bentuk 2 dan 3 dimensi, dan sulit dibendung. Biasanya juga menebarkan banyak virus digital ke perangkat kita. Produksi e-Pornografi mencapai ribuan tiap bulannya dari berbagai negara. e-Pornografi adalah salah satu perbuatan dosa yang bisa merembet ke perbuatan dosa lain, misal: perkosaan, pelecehan seksual, perceraian, dan lain sebagainya.

Layar komputer atau telepon genggam biasanya disertai informasi foto atau gambar yang bisa diubah dan dipalsukan sehingga di internet banyak beredar nama samaran atau foto palsu. Jika kita tidak hati-hati berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal atau orang yang tidak jelas, kita akan terperangkap dengan segala kejahatan atau kepalsuan melalui internet, misalnya: penipuan data, pencurian kata sandi, "cyber bullying", dan pencurian data.

Membanjirnya dan terbukanya berbagai informasi yang baik maupun yang menyesatkan dapat diperoleh dengan mudah secara sengaja maupun tidak sengaja. Jika kita tidak bijaksana dalam merespons berbagai informasi, kita akan terjerumus dalam penolakan akan Allah. Banyak nabi palsu modern menggunakan internet dan media informasi secara profesional untuk membutakan orang sehingga menolak Yesus Kristus.

Kita tidak bisa membendung kemajuan internet dan media sosial yang sangat bebas. Kita hanya bisa meningkatkan kualitas pengajaran dan penyebaran Injil. Generasi muda dengan mudahnya menerima segala informasi berdasarkan kebenaran logika dan pengetahuan, tetapi orang tua perlu mengajarkan kebijaksanaan untuk memilah informasi secara benar menurut iman Kristen.

Berhala Digital Modern

Manusia modern cenderung sangat menikmati mesin-mesin pintar canggih, bahkan cenderung mencari model terbaru, tercanggih, dan terkini. Mesin-mesin pintar ini bisa dalam bentuk super komputer, "smartphone", "smartcamera", "smartglasses", "smartcar", "smartwatch", robot, dan lain sebagainya. Karakteristik mesin-mesin pintar ini adalah dapat berinteraksi secara personal dan cerdas dengan manusia, mengerti perintah dari manusia dan merespons keinginan manusia dengan cepat. Manusia sangat menikmati interaksi berjam-jam dengan mesin-mesin pintar, misalnya menghabiskan waktunya untuk bermain permainan internet, menjelajah web, kecanduan e-Pornografi, menonton YouTube berlebihan, dan lain lain.

Dulu, manusia menghabiskan waktunya berjam-jam untuk memberhalakan benda-benda yang tidak bisa bicara. Sekarang, manusia modern memberhalakan waktu dan hatinya berjam-jam untuk berinteraksi dengan mesin-mesin pintar yang bisa berbicara. Mesin-mesin pintar telah menjadi berhala modern bagi orang yang menjauhkan diri dari Allah yang hidup. Bagi sebagian orang, perangkat mereka lebih penting daripada Tuhan. Mereka lebih menikmati perangkat mereka daripada menikmati persekutuan dengan Tuhan. "Gadget" akan menjadi berhala modern, jika kita sulit melepaskannya. Bagi sebagian orang, perangkat mereka menjadi kenikmatan duniawi dan berubah menjadi ketergantungan sekaligus kebutuhan. Sebuah peringatan keras bagi kita bahwa zaman ini orang lebih mengandalkan mesin pencari dan mencari perangkat terbaru daripada mencari Tuhan. Mulanya orang memberikan waktunya pada perangkat mereka, lambat laun mereka memberikan hatinya, dan kemudian akhirnya orang bisa meninggalkan Tuhan.

Kita perlu terus menjaga relasi kita dengan Tuhan setiap hari, agar relasi kita dengan benda-benda di sekitar bisa diposisikan secara tepat, jauh di bawah relasi kita dengan Tuhan. Mesin-mesin pintar pada dasarnya hanyalah alat dan tidak perlu dituhankan. Allah yang hidup tidak hadir dalam benda-benda buatan manusia. Kita bisa menggunakan mesin-mesin pintar untuk kemuliaan-Nya, jika kita mau mengutamakan Yesus dalam hidup kita. Teknologi adalah alat berkarya bagi kemuliaan Tuhan, bukan untuk memuaskan keinginan daging atau mempertontonkan kesombongan.

Hidup di Lautan Informasi

Kemajuan teknologi informasi membuat dunia semakin terbuka, transparan, tanpa sensor, dan mudah mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dengan cepat. Internet menjadi pintu gerbang menuju persimpangan informasi. Manusia telah mengandalkan mesin pencari untuk kebutuhan jawaban cepat tentang berbagai bidang kehidupan.

Kita hidup di dalam lautan informasi yang tidak bisa diduga kedatangannya, karena tiba tiba sejumlah pesan bisa masuk ke telepon pintar dari berbagai media sosial. Kita akan disibukkan membaca dan membalas ratusan informasi yang masuk ke telepon pintar. Informasi baik, buruk, membangun, tidak membangun, menyesatkan, meluruskan, bermanfaat atau tidak bermanfaat akan datang dari berbagai arah dari belahan dunia. Pengaruh hedonisme, materialisme, konsumerisme, dan isme-isme lainnya begitu mudah kita terima dan hal itu dapat menjauhkan kita dari Tuhan Yesus. Suatu saat kita akan sulit membedakan mana informasi yang benar dan yang salah, yang valid dan tidak valid, karena terlalu banyak berita palsu dan sesat bertebaran di media sosial.

Kita hidup di dunia informasi yang bebas, liar, tanpa batas dan sulit dibendung. Dulu orang tua mendidik kita dengan menutup pintu dan jendela supaya orang jahat tidak masuk ke dalam rumah kita. Namun, pada zaman ini meskipun semua pintu dan jendela rumah kita tutup, pengaruh baik dan buruk akan tetap bisa masuk melalui perangkat kita. Kita sekarang sulit membatasi informasi yang masuk, karena dalam satu jendela perangkat kita hampir bisa melihat dan menemukan informasi apa saja. Dunia informasi yang menganut kebenaran relativisme online 24/7, mudah melemahkan iman kristen kita jika kita tidak berpegang teguh pada kebenaran firman Tuhan.

Kita seharusnya berusaha untuk membangun wawasan kristiani yang berguna untuk menyaring dan membentengi berbagai informasi yang masuk ke dalam pikiran kita. Wawasan kristiani ini berguna untuk membedakan mana yang baik, yang alkitabiah, atau yang berkenan pada Allah.

Bagi anak-anak kita, kita perlu menanamkan kepekaan dan kemampuan untuk memilah informasi di tengah derasnya arus informasi yang ada. Program pembinaan rohani pada anak dan orang tua seharusnya terus berjalan setiap hari dalam bentuk saat teduh, mezbah keluarga, berdoa bersama, "sharing" bersama dan sebagainya. Kita harus mengajarkan kebenaran firman Tuhan di dalam keluarga kita setiap hari. Melaluinya, wawasan alkitabiah akan terbentuk di dalam diri setiap anggota keluarga kita.

Tetap Dinamis, Tetap Kristen

Zaman terus bergerak maju. Inovasi teknologi dari zaman ke zaman akan terus berlanjut semakin canggih. Sesuatu yang ditemukan di zaman sebelumnya akan digeser oleh inovasi berikutnya. Kita tidak bisa mundur atau kembali pada teknologi masa lalu dan pada saat yang bersamaan kita dipaksa untuk menggunakan inovasi teknologi terkini.

Orang Kristen dituntut untuk bisa hidup di segala zaman. Iman Kristen tidak boleh luntur dan kalah oleh perubahan zaman. Dari zaman batu, zaman besi, zaman industri, zaman modern, dan zaman pascamodern, orang Kristen seharusnya tetap bisa mempertahankan imannya kepada Yesus Kristus. Zaman boleh berganti, tetapi biarlah iman kita tetap kepada Yesus Kristus. Televisi pun boleh semakin canggih, tetapi namanya tetap televisi. Demikianlah, orang Kristen boleh hidup di zaman apa pun, tetapi identitas imannya tetap pengikut Kristus, bahkan imannya semakin mengakar pada firman Tuhan. Namun yang seringkali menjadi masalah adalah ketika zaman berubah-rubah, iman kita juga ikut berubah-ubah sesuai filsafat dunia di zaman tersebut.

Orang Kristen perlu hadir membumi secara kontekstual dan kontemporer, dan tetap tidak berkompromi pada filsafat dunia. Kita perlu mempelajari teknologi canggih modern guna menerangi dan menggarami bagi pelayanan global. Iman Kristen kita seharusnya menolong kita untuk peka dalam merespons beberapa sistem negatif dalam penyalahgunaan teknologi, misalnya e-Pornografi, permainan yang mengusung kekerasan, dan film-film "new age movement". Janganlah menjadi orang Kristen "purbakala" yang hidup di era digital, artinya kita seharusnya mengikuti perkembangan zaman dan terus bergerak maju supaya kita tidak dipermainkan dunia. Kita perlu terus belajar, bertumbuh, berkembang, melakukan perbaikan diri, mengoptimalkan kemampuan dan juga sangat penting adalah kita tetap Kristen. Bukan hanya wawasan umum teknologi yang harus kita tingkatkan, tetapi juga wawasan kristiani kita perlu terus ditingkatkan guna mencapai kedewasaan Iman. Orang Kristen dewasa akan mampu merespons positif perkembangan kecanggihan teknologi bagi kemuliaan-Nya. Jika inovasi teknologi ada di tangan orang beriman maka orang beriman akan semakin mudah untuk berbuat kebaikan.

Kedalaman mempelajari teknologi seharusnya perlu diimbangi dengan kedalaman mempelajari firman Tuhan. Kedalaman mempelajari firman Tuhan akan mempunyai nilai tambah jika diperlengkapi dengan kedalaman mempelajari bidang-bidang di luar teologi seperti teknologi informasi, kedokteran, desain, dan lain sebagainya. Jika kita tidak mendalami teknologi, maka dunia akan menggunakan teknologi untuk propaganda filsafat duniawi.

Seringkali kita menjadi orang Kristen yang walaupun tidak berjalan mundur, tetapi statis. Akibatnya, kita akan tertinggal oleh inovasi dunia. Lalu kita akan menjadi orang Kristen "kuno" dan tidak membumi di kehidupan zaman super komputer dan terkungkung oleh masa lalu.

Peran Orang Tua Era Digital

Di dalam dunia informasi yang tanpa batas ini, peran keluarga menjadi sangat krusial untuk membina anak-anak. Orang tua harus menyadari bahwa tidak semua konten di media sosial bermuatan positif. Anak tetap membutuhkan perhatian dan pengawasan dalam menggunakan perangkat mereka. Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua:

1. Menjadi keluarga atau orang tua yang bahagia dalam Yesus Kristus adalah modal utama dalam mendidik anak-anak. Seringkali masalah kecanduan digital dilatarbelakangi oleh kurang harmonisnya relasi dalam keluarga. Akibatnya, anggota keluarga akan mencari kebahagiaan semu dari luar keluarga, misalnya perselingkuhan lewat chating, kecanduan e-Pornografi, dan sebagainya. Jika orang tua bahagia, maka anak akan bahagia. Jika orang tua ingin membuat anak bahagia, maka orang tua seharusnya terlebih dahulu mendapatkan kebahagiaan sejati di dalam Tuhan Yesus.

2. Begitu banyaknya informasi liar di internet dan media sosial yang mudah mengecohkan iman anak-anak, maka jika orang tua tidak mengajarkan anak mengikut Yesus, dunia pasti dengan kuat mengajarkan anak menolak Yesus. Orang tua seharusnya mempunyai program pembinaan rohani pada anak dan keluarga sebagai tempat pemuridan kristiani pertama bagi anak. Pemuridan di keluarga bisa dilakukan dengan saat teduh bersama rutin tiap hari, membaca buku rohani, memberikan aktivitas kepedulian sosial di dunia nyata.

3. Orang tua perlu mendampingi anak meskipun anak seringkali lebih andal dalam menggunakan perangkat mereka dibandingkan dengan orang tua. Namun, bagaimanapun juga orang tua lebih tahu soal kehidupan. Orang tua seharusnya tidak membiarkan anak memainkan perangkat mereka tanpa pengawasan. "Gadget" bagaikan pisau. Jika orang tua ingin mengajari anak masak, tentu saja orang tua tidak akan memberikan pisau kepada anak, lalu meninggalkan anak sendirian. Begitu juga seharusnya orang tua perlu menjadi teman bagi anak dalam bermain perangkat mereka dan tidak membiarkan anak bermain sendirian.

4. Orang tua menjadi wasit untuk menyeimbangkan antara kebebasan tanpa batas dan batasan dalam kebebasan bermain internet. Dunia internet adalah dunia informasi bebas tanpa batas, orang tua mempunyai peran penting untuk membatasi situs-situs yang boleh dikunjungi anak, permainan apa yang boleh dimainkan oleh anak, atau video apa yang boleh dilihat oleh anak. Tidak perlu ada permainan perang atau perkelahian. Selain itu, orang tua perlu dengan tegas membatasi berapa lama dan berapa kali seminggu anak diizinkan bermain menggunakan perangkat mereka, kecuali untuk kepentingan belajar. Seimbangkan waktu online dengan aktivitas fisik. Orang tua perlu tegas dan konsisten dalam menjalankan perjanjian dengan anak.

5. Perlu juga dibicarakan dengan anak bahwa perangkat mereka adalah milik orang tua dan anak hanya meminjamnya dari orang tua. Maka kontrol penuh atas perangkat tersebut ada di tangan orang tua.

6. Di dalam rumah, seharusnya pemakaian "gadget" tidak perlu dirahasiakan. Pemakaian "gadget" di keluarga perlu transparan juga untuk menghindari perselingkuhan. Kesadaran akan hal ini perlu terus dikembangkan demi kebaikan bersama.

Oleh: Ang Wie Hay, Penginjil dan profesional dalam Teknologi Informasi

*Diambil dari Sisipan Santapan Harian, Edisi 04/XLVI (Juli-Agustus 2015)