Apps4God

Submitted by admin on Tue, 04/13/2021 - 13:00

Putri kami duduk di bangku sekolah menengah, dan baru-baru ini dia menghapus aplikasi Alkitab dari ponselnya. Saya senang.

Dia membuat keputusan ini bukan karena dia tidak ingin lagi membaca Alkitab. (Faktanya, dia lebih terlibat dalam studi Alkitab sekarang daripada sebelumnya.) Dan, dia tidak menghapus aplikasi karena frustrasi dengan betapa buruk cara kerja aplikasinya. (Kemampuan YouVersion menjadi lebih baik setiap saat.)

Dia melepaskan aplikasinya karena, menurut kata-katanya, -Aplikasi Alkitab itu seperti Instagram-. Komponen media sosial mengambil alih alasan awal untuk memiliki aplikasi tersebut. Seluruh pengalaman menjadi tentang menelusuri gambar-gambar yang akan diposting oleh teman-teman sekolahnya, kadang-kadang dengan ayat-ayat Alkitab terlampir — beberapa tidak berhubungan, beberapa lucu, dan beberapa serius. Gambar ayat dan komentar pada postingan satu sama lain bermunculan terus sampai pada titik ketika dia merasa firman Allah telah berubah menjadi sarana ekspresi diri dan koneksi daring lainnya.

Saya tidak tahu apa yang membentuk keadaan ini.

Putra kami duduk di bangku sekolah menengah atas, dan pengalamannya dengan aplikasi Alkitab sangat berbeda. Dia terus-menerus membaca Firman Allah setiap hari selama setahun penuh ketika dia menggunakan rencana membaca dan bergabung dengan pendeta siswanya dan beberapa remaja yang sepakat menggunakan fungsi aplikasi untuk meminta pertanggungjawaban satu sama lain.

Demikian pula, pengalaman saya dengan aplikasi Alkitab ternyata positif. Saya menggunakannya untuk meneliti berbagai terjemahan dalam bahasa Inggris, dan saya mempelajari terjemahan Rumania juga, untuk melihat bagaimana beberapa dari mereka menerjemahkan sebuah ayat. Memang benar bahwa saya tidak membaca Alkitab terutama di ponsel, tetapi sangat berguna untuk memiliki firman Allah yang begitu mudah diakses.

Alkitab sebagai Aplikasi

Saya telah menulis sebelumnya tentang kekuatan dan kelemahan menggunakan firman Allah di smartphone. Penelitian tentang keterlibatan Alkitab di antara orang Amerika menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen pembaca Alkitab reguler lebih suka yang cetak daripada digital. Persentase itu benar meskipun lebih dari 90 persen pembaca Alkitab juga menunjukkan bahwa mereka terlibat dengan Alkitab di platform digital dan melalui aplikasi.

Dalam ulasan saya tentang buku Jeffrey Siker, "Liquid Scripture: The Bible in a Digital World", saya melihat beberapa cara pertemuan digital dengan Alkitab dapat membentuk pendekatan kita terhadap firman Allah. Pikiran awal saya tentang topik ini terbatas pada perubahan tak kentara dalam ekspektasi yang kita miliki ketika kita membaca Alkitab di ponsel. Elemen yang lebih baru, percampuran Firman Allah dengan aspek media sosial, adalah hal baru bagi saya.

Itulah mengapa pengalaman putri saya sangat berbeda dengan saya, dan dari saudara laki-lakinya. Musim gugur yang lalu, dia memberi tahu saya bahwa anak-anak tertentu sedang menggoda orang lain di komentar di bawah gambar ayat Alkitab. Baru-baru ini, beberapa temannya mulai memposting ayat-ayat Alkitab di luar konteks, dengan latar belakang dan foto yang aneh, yang dimaksudkan untuk membuat para remaja cekikikan. Seluruh atmosfer telah menjadi satu di mana orang memberi tanda "suka" dan mengomentari gambar (atau menahan diri untuk tidak melakukannya, yang mengarah ke kebingungan dan pertanyaan tentang mengapa).

Saat berbicara dengan putri saya, saya menyadari bahwa semua pikiran cemas, postingan aneh, dan obsesi aneh yang menyertai platform media sosial seperti Instagram telah masuk ke dalam aplikasi Alkitab itu sendiri. Dan, meskipun dia menikmati hubungan dengan beberapa temannya, gangguan dari begitu banyak suara yang bersaing dan dorongan untuk mengekspresikan diri terbukti sangat kuat. Jadi, baginya, saat ini dia ingin kembali ke Alkitab cetak saja.

Menurunkan Nilai Kitab Suci?

Saya bertanya kepada teman saya Chris Martin, seorang pengamat tren media sosial yang lihai, untuk beberapa pemikiran tentang bagaimana aplikasi memengaruhi cara kita menggunakan Alkitab. Dia memposting artikel tentang topik tersebut.

Ketika kita memperhatikan hubungan antara Alkitab dan media sosial, sebaiknya kita memperhatikan kata-kata terkenal ahli teori media Marshall McLuhan -- Mediumnya adalah pesannya,- yang berarti, -Bagaimana Anda mengkomunikasikan sesuatu secara dramatis membentuk apa yang Anda komunikasikan.-

Internet sosial telah membuat komunikasi menjadi murah, cepat, dan didorong oleh apa yang paling menghibur, bukan yang paling berharga. Bagaimana kita membagikan Kitab Suci di internet tanpa membiarkannya menjadi bentuk hiburan lain?

Saya telah sampai pada kesimpulan bahwa orang Kristen akan menjadi pelayan firman Allah yang buruk jika kita tidak membagikannya dengan orang lain melalui media ini, tetapi kita akan bijaksana untuk melakukannya dengan hati-hati dan dengan perhatian khusus terhadap godaan yang akan kita hadapi yaitu menggunakan Firman Allah sebagai sarana untuk keuntungan pribadi. Kita harus membagikan hikmat dan kebenaran Alkitab di internet — bagaimana mungkin tidak?! - tetapi kita tidak boleh menggunakannya sebagai penyangga dalam produksi yang sedang berlangsung di mana kita semua adalah aktor atau tokoh-tokoh utama.

Kita tidak perlu takut bagaimana media sosial dapat merendahkan Kitab Suci — kekuatan firman Allah tidak dapat digagalkan oleh medium itu sendiri. Namun demikian, kita harus prihatin tentang bagaimana hati kita yang berdosa dapat merebut Kitab Suci di satu sisi dan internet sosial di sisi lain menuju upaya berdosa untuk menguntungkan diri kita sendiri. Ini adalah godaan yang akan selalu mengintai dalam bayang-bayang selama kita menginginkan perhatian dan pengaruh, yang merupakan mata uang kembar dunia digital kita.

Tidak diragukan lagi bahwa aplikasi Alkitab adalah berkat dalam hal aksesibilitas dan jangkauan untuk menyampaikan firman Allah kepada sebanyak mungkin orang. Dan, bahkan jika saya tidak pro-Alkitab-daring sebagai pengganti untuk menggunakan Alkitab dalam bentuk cetak, saya bersyukur atas kemampuan aplikasi ini.

Namun, saya bertanya-tanya, apa arti Instagram-ification dari YouVersion bagi generasi pembaca Alkitab berikutnya. Apakah jenis lingkungan daring ini mengarah pada keterlibatan yang lebih dalam dengan firman Allah? Atau apakah itu mengalihkan perhatian dari mendengarkan suara Allah?

Beberapa Saran

Berdasarkan pengalaman saya sendiri dan keterlibatan positif putra kami dengan Alkitab di YouVersion, berikut beberapa saran yang dapat membuat aplikasi Alkitab tidak hanya menjadi platform media sosial lainnya:

Pertahankan teman-teman yang terhubung dengan Anda di aplikasi Alkitab ke sejumlah kecil orang yang Anda kenal dalam -- kehidupan nyata -- yang serius tentang membaca Alkitab. Dengan cara ini, Anda meminimalkan gangguan yang berasal dari komentar sembarangan.

Gunakan fungsionalitas aplikasi untuk membuat Anda tetap di Word, terlibat dalam berbagai rencana bacaan sendiri atau dalam komunitas dengan orang lain. Ketahuilah bahwa beberapa rencana bacaan lebih banyak porsi pada materi renungan dan lebih sedikit pada Alkitab. Sebagai pelengkap dari pembacaan Alkitab biasa Anda, ini baik-baik saja, tetapi Anda tidak ingin kata-kata orang lain (betapapun bermanfaat) menjadi materi utama.

Berhati-hatilah untuk tidak memposting gambar ayat hanya untuk mendapatkan reaksi dari orang lain di aplikasi. Sangat mudah untuk beralih ke pamer iman ketika ada insentif sosial untuk memposting ayat-ayat Alkitab secara teratur.

Pertimbangkan untuk menjadikan Alkitab cetak sebagai tempat utama Anda untuk mempelajari Firman Allah, dan gunakan aplikasi sebagai suplemen yang bermanfaat. Mengapa? Bentuk keterlibatan digital tidak netral, dan kita perlu mewaspadai kerugian yang akan kita alami jika kita beralih ke pembacaan Alkitab daring sebagai cara kita yang utama atau satu-satunya dalam mengalami Alkitab di masa depan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
URL : https://www.thegospelcoalition.org/blogs/trevin-wax/when-the-bible-turns-into-instagram/
Judul ali artikel : When the Bible Turns Into Instagram
Penulis artikel : Trevin Wax