Bagaimana Ide Anda Bisa Menjadi Teknologi-Teknologi untuk Memuliakan Tuhan?

Credit: Act-On

Orang-orang "Non-techy" (Orang yang tidak mahir dan tidak tertarik dengan komputer dan elektronik - Red.) menciptakan teknologi pada sebuah ajang hackathon "Code for the Kingdom"

Leadership Network meluncurkan hackathon "Code for the Kingdom" pertama pada tahun 2013. Dari hackathon pertama dan sampai saat ini orang-orang dari berbagai tempat masih berkata seperti ini "Saya bukan pakar teknologi; Saya bukan programmer komputer; Saya bukan desainer; Apa yang bisa saya lakukan dalam hackathon "Code for the Kingdom"? Bagaimana saya bisa mengubah ide-ide saya menjadi teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang? Bagaimana saya bisa menjadi bagian dari ini?" Jawaban kami selalu sama: "Kita semua memiliki sesuatu untuk disumbangkan." Allah adalah Sang Perancang, dan sebagai anak-anak-Nya yang diciptakan menurut gambar-Nya, Dia tinggal di dalam kita dan begitu juga kreativitas-Nya. Anda tidak perlu menjadi seorang pakar teknologi, programmer, atau pengusaha, untuk membantu menciptakan teknologi yang berarti. Allah memanggil kita semua untuk melayani dan untuk melakukannya dengan sukacita, dan selanjutnya biarlah Dia yang menyelesaikannya. "Code for the Kingdom" sesungguhnya adalah sebuah gerakan dan model akar rumput di mana penyelenggara dari relawan lokal melakukan sebagian besar pekerjaan dasar. Dalam 24 hackathon "Code for the Kingdom" yang telah diadakan sejauh ini, kami telah menggiatkan sekitar 3000 individu berbakat yang menciptakan lebih dari 300 teknologi baru untuk pengaruh Kerajaan Allah. Teknologi seperti Abide, dan Scriptive sudah tersedia untuk diunduh di App Store atau Google Play. Pada bulan Oktober 2015, Guatemala City berpartisipasi dalam hackathon global "Code for the Kingdom" dan mereka membuktikan bahwa Allah memanggil kita semua untuk melayani dan membiarkan Dia yang menyelesaikannya. Diego Arimany adalah penyelenggara utama lokal untuk hackathon "Code for the Kingdom" di Guatemala. Ini adalah kisahnya tentang apa yang terjadi di ajang hackathon itu...
Ini adalah pengalaman pertama saya berpartisipasi dalam ajang hackathon "Code for the Kingdom" pada tanggal 2 Oktober 2015 dan Guatemala City berpartisipasi dalam acara global. Ajang hackathon dimulai dengan hanya 1 tim yang terdiri dari 14 orang termasuk 2 pengembang dengan 1 laptop dan 2 orang anak-anak di bawah usia 7 tahun. Akan tetapi, hackathon akhir pekan kami diakhiri dengan peluncuran "layanan bantuan-telpon" dengan pelanggan-pelanggan yang nyata, "Ayuda.Network". Mengatasi Keterbatasan Kita Saya pengelola utama internasional untuk ajang hackathon "Code for the Kingdom" di Guatemala City. Saya mengakui saya memiliki perasaan takut bercampur kekecewaan ketika hackathon global dimulai dengan kurang dari segelintir pengembang yang terampil (software, hardware, UX, dll). Oh, betapa kami bergantung pada penyertaan Tuhan saat kami membuka acara hackathon itu dalam doa. Tantangan global dan lokal dihadapkan kepada kelompok untuk membantu menentukan proyek-proyek selama akhir pekan. Saya masih gemetar tetapi tidak lumpuh; dan terus melakukan gerakan untuk memfasilitasi ajang hackathon tersebut. Saat kami berkeliling ruangan memperkenalkan diri, keterampilan kami, dan tujuan kami untuk berada di sana (Asal Anda tahu, saya masih terkejut karena tak percaya pada jumlah pemilih yang rendah), seorang teman "yang bukan orang percaya" berdiri dan berbagi visinya tentang apa yang dapat dicapai secara khusus dalam suatu hackathon jika kami berbagi sebuah panggilan ilahi. Setelah itulah semuanya menjadi jelas bahwa Allah mengatur talenta-talenta di dalam kelompok kami untuk suatu tujuan. Tujuan kami bukan hanya penciptaan kode seperti yang Anda duga dari ajang hackathon, tetapi benang merah kami berada dalam hasrat kami untuk membantu yang terhilang dengan informasi yang relevan dan memadai. Kata "yang terhilang" yang kami maksudkan adalah orang percaya dan tidak percaya yang tidak tahu bagaimana untuk bertindak atau bereaksi dalam sebuah situasi. Oleh karena itu, kita semua bisa "terhilang" dan menemukan diri kita dalam sebuah teka-teki. Hasil Akhir Kurangnya daya pengembangan-kode, yang awalnya dilihat sebagai risiko, menjadi kekuatan yang besar ketika kami mengambil sebuah tantangan dan menemukan cara untuk menggunakan talenta-talenta kami untuk membangun sesuatu bagi Kerajaan Allah. Di antara anggota-anggota tim pada ajang hackathon, kami memiliki para pengusaha, spesialis pemasaran, pelatih lokakarya, pencipta kebijakan, manajer proyek, dan 'penasihat tantangan' kami, yang membantu kami dalam menentukan apakah kami sedang membangun sesuatu yang berharga. Tujuan kami kemudian adalah untuk menghasilkan realisasi dari "layanan bantuan-telpon". Namun, kami merancang solusi untuk tantangan kami sebagai sebuah produk secara keseluruhan. Kami memulai dengan beberapa "titik masuk" front-end untuk alat kami di mana pengguna bisa berinteraksi, dan kami membayangkan suatu back-end yang akan terdiri dari tim relawan. Tentu kami juga harus bekerja untuk menciptakan sebuah jaringan relawan dan menghubungkan layanan mereka yang berbeda-beda selama akhir pekan untuk menciptakan sebuah 'minimum viable product' (Sebuah produk yang memiliki cukup fitur untuk bisa dicoba - Red.) pada akhir ajang hackathon tersebut. Kami berpikir bahwa itu akan menghentikan kami, tetapi kami memiliki para pengusaha di tim kami. Mereka mengarahkan kami untuk meluncurkan layanan tersebut melalui sebuah kampanye media sosial dan mencari relawan yang kami perlukan. Saat kami minum kopi, kami menerima permintaan pertama kami dan kami pun terenyak. Kami sedang menunggu untuk melihat bagaimana atau bahkan BARANGKALI jaringan relawan akan bereaksi, dan terpujilah Tuhan bahwa itu terjadi! "Ayuda" berarti "Tolong" dan kami secara jelas menerima pertolongan Allah pada ajang hackathon akhir pekan itu. Kami mulai menentukan jenis layanan bantuan-telepon yang akan kami mulai, apa yang BUKAN kami sebagai sebuah organisasi, dan akhirnya bagaimana kami bergabung sebagai sebuah perusahaan dan langkah-langkah berikutnya untuk pertumbuhan. Apa yang Ditunjukkan "Code for the Kingdom" kepada Kami? Kami berhasil menciptakan sesuatu karena visi yang ditetapkan oleh "Code for the Kingdom", yaitu untuk menemukan atau membuat solusi untuk memperluas kerajaan Allah di bumi melalui hacking (meretas - Red.). Saya percaya kita baru saja mengerjakannya. Kami melakukan peretasan untuk membentuk hubungan antara berbagai layanan, antara satu sama lain, memahami kebutuhan calon pengguna dan bagaimana mereka akan menghubungi kami melalui jejaring sosial, dan mengarah kepada sebuah jaringan yang ingin membantu dan tidak memiliki saluran untuk melakukannya. Cukup baik untuk hackathon pertama kami! Terima kasih "Code for the Kingdom" untuk pengalaman yang indah ini! Salam dari "tim Amerika Latin" di Guatemala.
Jadi bagaimana Anda bisa menjadi bagian dari ajang hackathon 2016? Seperti yang Anda lihat, dalam cerita Diego Anda tidak perlu menjadi seorang "techy". Yang harus Anda miliki hanyalah semangat dan ide-ide!
Bergabunglah dengan kami di salah satu atau lebih banyak ajang hackathon "Code for the Kingdom" 2016 termasuk hackathon global "Code for the Kingdom" ke-2 serta beberapa hackathon regional.
Daftarkan diri Anda untuk membantu mengatur atau untuk mendapatkan informasi tentang ajang hackathon di sebuah kota yang dekat dengan Anda.
Jadilah seorang mentor di ajang hackathon "Code for the Kingdom" di California Baptist University di kota Los Angeles pada tanggal 3-5 Maret.
Jadilah peserta atau mentor untuk ajang hackathon "Code for the Kingdom" pada tanggal 11-13 Maret di kota Nashville, TN.
Bersama-sama kita akan menciptakan teknologi yang bermakna!!! (t/Jing-Jing) Diterjemahkan dari: Nama situs: Leadership Network Alamat URL: http://leadnet.org/how-can-your-ideas-become-technologies-to-glorify-god/ Judul asli artikel: How Can Your Ideas Become Technologies to Glorify God? Penulis artikel: Diego Arimany Tanggal akses: 10 Agustus 2016