Dunia kita berada di ambang sesuatu yang disebut beberapa orang sebagai Revolusi Industri 4.0, yang dimotori oleh teknologi yang meruntuhkan pembedaan antara fisik dan digital. Generasi sebelumnya hanya bisa membayangkan inovasi seperti kecerdasan buatan, realitas virtual, dan peningkatan aspek biologis, yang memperluas pengalaman manusia jauh melebihi kemampuan alaminya. Namun, dewasa ini, banyak dari perkembangan tersebut dapat dijangkau.
Bahkan, di antara para elite teknologi, tidak ada kesepakatan tentang pertanyaan-pertanyaan etis kompleks yang dimunculkan oleh inovasi-inovasi ini ataupun hasil yang kepadanya kita mungkin dibawa. Orang-orang optimis seperti CEO Facebook, Mark Zuckerberg, dan pendiri LinkedIn, Reid Hoffman, memprediksikan suatu masa depan tempat semua penyakit dapat disembuhkan dan semua tantangan social dapat ditangani. Sebaliknya, CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, meyakini bahwa manusia bisa saja menyebabkan penghancuran diri dengan menciptakan teknologi yang tidak dapat kita kendalikan sepenuhnya.
Douglas Estes, asisten profesor Perjanjian Baru dan teologi praktika di South University, Columbia, sekaligus penulis buku Braving the Future: Christian Faith in a World of Limitless Tech ("Menantang Masa Depan: Iman Kristen di Tengah Dunia dengan Teknologi Tak Terbatas" - Red.), menyebut dirinya sebagai seorang optimis teknologi. Dia melihat potensi besar dari masa yang akan datang, asalkan orang Kristen berperan aktif membentuknya. Braving the Future merupakan buku panduan untuk menolong orang Kristen memahami inovasi-inovasi yang akan datang sekaligus panggilan kepada orang percaya untuk mengatakan kebenaran yang relevan, berdasar, dan penuh pengharapan dalam masyarakat yang berubah-ubah.
Baru-baru ini, Estes berbicara dengan CT terkait pandangannya terhadap inovasi-inovasi yang muncul, responsnya terhadap pihak-pihak yang skeptis, dan bagaimana orang Kristen dapat berpartisipasi dalam percaturan teknologi.
Dalam pandangan Anda, banyak teknologi yang dapat merevolusi cara hidup kita, seperti mesin otonom dan penyuntingan gen, akan tiba, entah kita suka atau tidak. Apa yang akan Anda katakan kepada orang yang tidak tertarik mengadopsi teknologi tersebut?
Bagi mereka yang sangat skeptis, saya akan bilang bahwa tantangan kita sebagai orang percaya adalah bahwa kita ditempatkan di dalam dunia yang jelas-jelas bukan milik kita. Dan, dunia tersebut akan terus maju, entah kita suka atau tidak. Tugas kita bukan untuk duduk di takhta Allah dan memutuskan apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh dunia, melainkan untuk berusaha sebaik mungkin di lingkungan tempat Allah menempatkan kita.