Apps4God

Submitted by admin on Wed, 09/20/2017 - 12:00

Perlukah gereja memanfaatkan media sosial bagi misi untuk membawa Injil ke ujung bumi? Ya!

Namun, setelah kurang lebih satu dekade membantu gereja-gereja dan pemimpin-pemimpin (gereja) memanfaatkan blog dan jejaring sosial untuk pelayanan, saya tiba pada kesimpulan kuat yang perlu didengar oleh setiap pemimpin gereja:

"Kita tidak perlu melibatkan gereja kita dalam media sosial kecuali para pemimpin gereja kita ikut berinvestasi di dalamnya."

Ketika sebuah gereja mencari bantuan tentang bagaimana memulai, hal ini biasanya tentang meluncurkan atau mendesain ulang situs web gereja, membuat sebuah halaman Facebook untuk gereja, dan kemungkinan membuat akun Instagram dan/atau Twitter. Namun, usaha-usaha ini setiap kali hanya sia-sia karena kesalahpahaman tentang sifat media sosial.

Berikut ini penjelasan sederhananya. Media sosial adalah media (informasi, kebenaran, semacam pesan) yang bersifat sosial (menyebar dari individu ke individu atau individu ke masyarakat melalui relasi). Namun, kita yang dibesarkan pada zaman televisi, radio, media cetak, dan bahkan hari-hari awal internet berharap hal itu sesederhana seperti pada dua dekade yang lalu ketika institusi atau organisasi apa pun bisa mendistribusikan pesannya secara luas dan mengandalkan respons yang layak dari khalayak umum.

Berikut ini adalah kenyataan berat, atau kesempatan indah jika kita bisa melihatnya demikian, yang sedang kita hadapi:

  • Masyarakat tidak lagi memercayai institusi, termasuk gereja, untuk bersikap jujur terhadap pesan mereka.
  • Masyarakat tidak mendengarkan bahasa institusional, tetapi sebaliknya, menuntut suara manusia secara autentik.
  • Masyarakat tidak memilih sesuatu berdasarkan iklan, tetapi berdasarkan pendapat teman.

Jadi, memiliki situs gereja, atau halaman Facebook gereja, atau apa pun yang milik gereja, sangat tidak efektif jika tidak bersifat personal, manusiawi, dan relasional.

Saya percaya, bagi sebagian besar gereja, khususnya gereja-gereja berukuran kecil hingga menengah, lebih penting kehadiran pendeta dan staf di media sosial, ketimbang kehadiran gereja secara institusional. Marriott hanyalah sebuah hotel, tetapi membaca blog milik Bob Marriott membuatnya menjadi bisnis yang relevan dan dikenal. Zappos merevolusi bisnis retail pakaian dengan merespons secara langsung kepada konsumen di Twitter. Dan, Ed Stetzer adalah salah satu suara yang paling banyak didengar karena dia memutuskan membuat blog dan twit yang bernilai sepadan dengan waktu yang dihabiskan.

Maka sekarang, pertanyaan saya yang pertama dan utama kepada pemimpin gereja mana pun yang sedang meminta bantuan untuk mulai masuk ke media sosial, adalah: Apakah Anda menggunakan media sosial secara personal dan profesional?

Menggunakan alasan bahwa Anda tidak punya waktu tidak lagi cukup baik. Jika Anda memiliki waktu untuk penginjilan, Anda memiliki waktu untuk media sosial. Jika Anda memiliki waktu untuk bertemu dengan orang-orang baru, meriset tentang tren-tren terkini, dan membangun relasi, Anda memiliki waktu untuk media sosial. Jadi, saatnya adalah sekarang.

Jika Anda adalah seorang pemimpin gereja dan Anda tidak menggunakan media sosial untuk memajukan tujuan-tujuan gereja, Anda hanya menunda usangnya dampak pelayanan Anda. Anda bisa meluncur sebentar dan berelasi hanya dengan sesama "pemain bertahan", atau Anda bisa memutuskan bahwa sekarang adalah waktunya untuk melibatkan diri dengan budaya saat ini, di tempatnya sekarang, di dunia yang bersifat daring. Berikut ini beberapa tip untuk memulai:

  • Buka akun di Twitter, buatlah biografi yang pantas dan gunakan foto terkini untuk profil Anda, kemudian ikuti orang-orang yang tepat -- sesama pemimpin gereja, pemimpin komunitas, dan keluarga besar sekitar jemaat gereja Anda.    
  • Gunakan Facebook secara rutin. Pasanglah sesuatu yang menginspirasi setiap hari, bukalah jendela menuju kehidupan Anda dengan beberapa foto, dan beri dorongan kepada orang-orang dengan komentar, like, dan pesan-pesan pribadi.
  • Buatlah blog. Gunakan Wordpress, Tumblr, atau Medium untuk mengubah catatan-catatan khotbah Anda menjadi pesan-pesan devosi yang akan hidup melampaui jam makan siang pada hari Minggu. Dan, beranikan diri untuk membagikannya kepada orang-orang lain.
  • Daftarkan diri untuk mendapatkan bahan-bahan yang membantu dan gratis dari Lifeword, yang tujuannya adalah untuk menolong setiap orang percaya menjadi misionaris media. Atau, bacalah sebuah buku tentang menggunakan media sosial untuk pelayanan.

Ketika pemimpin-pemimpin gereja, seperti pendeta, para anggota staf, dan pemimpin-pemimpin tim sukarela bersemangat mengomunikasikan Injil dan membudayakan komunitas gereja yang sehat dengan menggunakan alat-alat modern, gereja akan mengikuti. Dan, pada akhirnya, orang-orang yang duduk di bangku gereja kita pada hari Minggu akan menjadi jauh lebih menolong untuk penyebaran Injil daripada wajah publik institusi. Sudah sejak dahulu cara itu dilakukan, yaitu ketika Yesus menugaskan para rasul untuk membawa Kabar Baik ke seluruh dunia. (t/Odysius)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Ministry Today
Alamat situs: http://ministrytodaymag.com/.../21668-what-to-do-before-your-church-starts-using-social-media
Judul asli artikel: What to Do Before Your Church Starts Using Social Media
Penulis artikel: Brandon Cox
Tanggal akses: 13 Juli 2017