Apps4God

Submitted by admin on Wed, 06/23/2021 - 14:13

Sepuluh tahun lalu, saya menulis esai singkat -- "Bagaimana Seandainya Nama Allah Adalah 01100100?" -- untuk suatu buletin teologis di Boston. Saya tidak sedang bergurau ataupun membuat lelucon tentang Allah. Yang saya coba lakukan adalah membayangkan Allah dengan bahasa biner berupa kode digital.

Sejak menulis artikel tersebut, dampak revolusi digital, tentu saja, telah menjadi jauh lebih jelas dalam segala aspek kehidupan modern. Kita hampir tidak dapat membayangkan bagaimana kita bisa hidup tanpa email atau Internet atau iPod atau BlackBerry atau belanja daring. Dalam ibadah pembukaan suatu perkumpulan perempuan Asia, seorang siswi muda dari Jepang membuka ponselnya, lalu membaca bagian Alkitab yang dipilih pada waktu itu dari layar yang kecil karena dia sudah mengunduhnya ke ponselnya. Siswa saya, Steve, yang sedang menempuh studi Pengantar Perjanjian Baru, membeli Alkitab dalam bentuk CD dan mengunduhnya ke dalam iPodnya. Sambil berjalan, berlari kecil, atau mengerjakan tugas harian, dia bisa mendengarkan bagian-bagian Injil atau surat-surat Paulus seperti halnya dia dapat mendengarkan beragam jenis musik lainnya.

Penyebaran dan pembelajaran Alkitab selalu berevolusi bersamaan dengan komunikasi manusia. Untuk waktu yang lama, Injil diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk oral karena kebanyakan orang Kristen tidak dapat membaca. Gedung-gedung basilika dibangun dan dihias hebat sebagai "Alkitab Batu", tempat perumpamaan-perumpamaan pada kaca patri, patung, mosaik, dan fresko memproklamasikan firman Tuhan. Selama masa medieval, biarawan dan ahli-ahli Taurat menghasilkan berbagai Alkitab dan manuskrip yang ditulis tangan dan diilustrasikan secara rumit. Komunikasi di Eropa direvolusi saat Johann Gutenberg memperkenalkan teknologi huruf lepas sekitar tahun 1450. Sebelum Gutenberg, terdapat sekitar 30.000 buku di seluruh benua, hampir semuanya adalah Alkitab atau tafsiran Alkitab. Diperkenalkannya teknologi huruf lepas dan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah selama masa Reformasi menjadikan Alkitab dapat diakses oleh semua orang. Alkitab tidak lagi berada di bawah lingkup gereja serta para pendeta dan teolog saja, tetapi juga tersedia bagi pembaca Kristen perorangan. Bersamaan dengan hadirnya percetakan, kritik terhadap Alkitab muncul. Bahkan, ketika asumsi filosofis yang dibawa oleh Masa Pencerahan memengaruhi studi historis terhadap Alkitab, ketersediaan teksnya saja, termasuk semua yang berasal dari budaya-budaya lain, juga membentuk jenis-jenis pertanyaan yang ditanyakan oleh para kritikus Alkitab. Phil Mullins menunjukkan: "Hubungan antara teks dan dunia sosial menjadi hubungan yang penting hanya di dalam dunia tempat percetakan mekanis telah berubah menjadi sarana proliferasi, mengisi dunia dengan banyak teks."[1]

Terlepas dari dominasi kritik historis dalam studi akademis terhadap Alkitab selama dua abad terakhir, satu pertanyaan baru menekan kita: Seperti apakah studi Alkitab pada masa depan saat kita beralih dari budaya cetak menuju budaya yang semakin ditentukan oleh media digital?

Kita yang masuk ke seminari sebelum awal 1990-an pasti ingat bagaimana kita memerlukan meja yang lebar untuk mempelajari Alkitab -- cukup lebar untuk teks Ibrani dan Yunani kita, berbagai terjemahan modern, kamus dan leksikon, konkordansi, buku-buku tentang kata-kata dalam Alkitab, dan berjilid-jilid sejarah dan teologi tentang Timur Dekat atau Kekaisaran Romawi. Alat-alat studi itu besar dan mahal, dan dianggap sebagai investasi baik yang akan menolong kita sepanjang pelayanan kita. Kita menghabiskan berjam-jam membaca arti kata-kata secara tersendiri, lalu meneliti dengan cermat kemunculan mereka dalam Alkitab. Hari ini, yang kita perlukan hanyalah komputer dengan beberapa program perangkat lunak, yang memungkinkan kita dengan mudah menampilkan teks Ibrani dan Yunani, membandingkan terjemahan yang berbeda, dan memeriksa arti dari kata-kata kuno tanpa repot. Dalam hitungan detik, kita dapat mencari tahu berapa kali kata "keadilan" muncul sepanjang Perjanjian Baru ataupun dalam surat-surat Paulus. Kita bisa mencetak teks asli Ibrani dan Yunani bersamaan dengan terjemahan-terjemahan Alkitab yang berbeda untuk dipakai dalam kelas atau dalam kelompok studi Alkitab di gereja.

Tentu saja, selain perangkat-perangkat elektronik berharga yang menghemat waktu ini, Internet menawarkan suatu dunia yang penuh dengan sumber bahan alkitabiah, yang bahkan tidak terpikirkan 20 tahun lalu. Rekan saya, Gale A. Yee, seorang sarjana Alkitab Ibrani, menunjukkan kepada saya tiga puluh tautan yang telah dia tandai dalam komputernya. Tautan-tautan itu mencakup tautan menuju organisasi profesi, jurnal ilmiah, arkeologi alkitabiah, dan studi tentang Timur Dekat kuno. Sebagai seorang sarjana yang tertarik pada representasi perempuan dan Alkitab Ibrani, Yee mendapati bahwa Internet telah menolongnya menghemat banyak waktu untuk menyisir banyak perpustakaan dan katalog museum dengan menyediakan informasi seputar lukisan, video, animasi, dan produk-produk elektronik lainnya di ujung jarinya.

Hiperteks Suci

Akankah ketersediaan sumber-sumber bahan digital multimedia ini mengubah relasi kita dengan Alkitab? Beberapa ahli percaya bahwa media elektronik akan mengubah pemahaman kita tentang "teks suci". Dalam budaya oral, cerita disampaikan secara lisan, ditafsirkan, dan dibumbui berdasarkan konteks dan respons pendengarnya. Dalam kasus teks cetak, salinan "keras" teks tersebut mengesankan bahwa teks itu sudah final dan batasan-batasannya tidak dapat diubah. Bagi beberapa orang, gagasan tentang "teks suci" adalah untuk budaya dan era yang sudah lampau. Seperti yang ditulis oleh Richard Thieme, "Berbicara tentang 'teks suci' berarti mengidentifikasikan diri sebagai Kaum Cetak, yaitu peziarah-peziarah pasca-Gutenberg yang sedang berlayar melintasi lautan tipografi yang luas."[2]

Budaya cetak pada masa kini tunduk pada budaya yang digital, tempat teks yang bersifat visual dan elektronis tampak jauh lebih cair dan dapat diubah. Teks elektronis tidak memiliki batasan-batasan yang tetap dan dapat terus-menerus diperbarui dan dikonstruksi oleh pencipta dan pengguna/pembacanya. Saat ini, Alkitab tampil dalam format hiperteks, dengan berbagai tautan menuju segala jenis informasi dan situs web. Pengguna dapat membaca beberapa baris, berselancar ke situs-situs lain, dan memeriksa beragam klip video, dan dengan demikian menciptakan domain pengetahuan dan konteks pengetahuannya sendiri. Budaya digital bukan sekadar cara lain untuk menampilkan teks, kata Robert S. Fortner, tetapi juga "reorientasi sensibilitas yang sepenuhnya baru dan rumit, sekaligus metafora baru yang mendefinisikan ulang relasi orang dengan teks yang telah membentuk landasan Kristen kita."[3]

Keilmiahan Alkitab tentunya ditakdirkan untuk menghadapi generasi baru yang terbenam dalam budaya visual, dengan gambar, animasi, dan video yang membentuk konteks penting baru untuk belajar dan memahami. Pertanyaan-pertanyaan pembimbingnya tidak akan lagi berfokus pada latar historis teks tersebut dan pendengar aslinya. "Saat interpretasi melibatkan tidak hanya pernyataan kebenaran verbal tentang proposisi interpretatif," tulis sarjana Alkitab A.K.M. Adam, "tetapi juga bentuk, warna, musik pengiring dan gambar bergerak, hal-hal terkait kebenaran sejarah menyurut di antara sejumlah pertanyaan lain."[4] Sarjana-sarjana alkitabiah akan perlu mahir dengan kritik film, kritik seni, media, dan studi budaya guna memahami interpretasi media siber yang sedang berkembang.

Gog, Magog, Blog

Salah satu perkembangan menarik dalam media siber adalah cara perseorangan mampu untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga berinteraksi dengannya melintasi ruang dan waktu. Saat Sarah Dylan Breuer memulai blog leksionarinya selama masa adven pada 2003, tujuannya cukup sederhana. Sebagai direktur formasi Kristen untuk pemuda dan dewasa di gerejanya di Maryland, dia berharap dapat menyediakan semacam kegiatan formasi tengah minggu untuk orang-orang yang terlalu sibuk untuk pergi ke gereja untuk mengikuti kelompok doa atau studi Alkitab. Pada minggu pertama setelah dia memulai blognya, sekitar 25 orang di gerejanya mengakses blog tersebut. Namun, angkanya dengan cepat melonjak menjadi 700 hingga 800 pada bulan berikutnya karena ada banyak orang yang tidak dia kenal, yang mulai membaca blognya. Blognya itu diangkat oleh Google dan situs-situs lain, dan sekarang telah memiliki kira-kira 8.000 pengunjung dalam seminggu, kebanyakan dari Amerika Serikat, tetapi juga dari negara-negara lain, termasuk negara-negara di daerah sub-Sahara di Afrika. Meski terlatih dalam hal studi Alkitab, Breuer menulis blognya dalam gaya bahasa yang ramah dan dialogis, dan tidak mengasumsikan posisi seorang ahli. Dia memandang perannya sebagai seorang "pendorong" untuk mendorong orang berpikir tentang leksionari dengan mempertimbangkan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dan lingkungan sosial tempat mereka berada. Oleh karena blognya mengizinkan pengunjung meninggalkan komentar, orang dapat membaca berbagai respons yang ditinggalkan oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia. Breuer dan pengunjung blognya membentuk sejenis komunitas interpretatif virtual karena responden dapat berkomentar tentang bagaimana gagasan-gagasan Breuer diterapkan dalam situasi-situasi mereka. Dengan membaca komentar-komentar blog ini, Breuer mengatakan bahwa dia belajar banyak tentang kekhususan budaya dalam interpretasi Alkitab.

Seluruh pengembangan ini mengundang tanya terkait pemahaman tradisional tentang otoritas dalam interpretasi. Dahulu, pendeta, sarjana, dan pemimpin religius dengan pelatihan teologis adalah tokoh-tokoh otoritas dan pemelihara tradisi alkitabiah yang tepercaya. Banyak orang Kristen akan tanpa ragu terus mengandalkan para ahli ini, sebagaimana dibuktikan oleh besarnya daya tarik buku-buku populer tentang Yesus historis. Akan tetapi, saat ini ada lebih banyak jalur untuk mencari informasi tentang Alkitab dengan berselancar di Web, berinteraksi secara virtual dengan para penafsir lainnya, dan mengajukan berbagai pertanyaan secara daring. Siapa saja dapat memulai sebuah situs atau blog tentang Alkitab, baik dengan maupun tanpa pelatihan alkitabiah.

Para Pencari dan Peselancar

Akankah budaya digital, yang dijunjung sebagai sesuatu yang demokratis dan menyediakan akses bagi orang awam, menantang otoritas-otoritas yang sudah mapan dan berbagai institusi religius?

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan rumit yang perlu ditinjau dari banyak sisi. Beberapa denominasi Kristen dan organisasi religius cerdas dengan cepat melihat potensi penggunaan media siber untuk menjangkau orang-orang. The United Methodist Church (Gereja Metodis Bersatu) adalah salah satu denominasi pertama yang menggunakan teknologi komputer untuk menjangkau anggota-anggotanya untuk formasi religius dan jejaring, yang dapat ditelusuri hingga sejauh awal 1980-an. Saat ini, beragam jenis denominasi dan jemaat lokal memanfaatkan Web secara ekstensif untuk menjuarakan tafsiran mereka tentang iman dan Kitab Suci. Menurut suatu survei, mayoritas orang dewasa muda yang menggunakan internet untuk mencari agama dan spiritualitas berkonsultasi pada situs-situs web dari tradisi-tradisi iman mereka sendiri. Maka dari itu, pertumbuhan media digital belum tentu melemahkan struktur religius tradisional, tetapi dapat menjadi alat komunikasi dan penjangkauan.

Mudahnya akses terhadap mater-materi alkitabiah di internet dapat menciptakan kebingungan dan teka-teki tentang keandalan informasi yang dapat ditemukan seseorang. Beberapa ahli Alkitab menggunakan keahlian mereka untuk menyediakan saran dan panduan yang menolong. Mark Goodacre, salah seorang profesor di Department of Religion di Duke University, menciptakan situs The New Testament Gateway (http://www.ntgateway.com), yang dipandang sebagai salah satu sumber bahan terbaik tentang studi Alkitab di internet dan menyediakan suatu model yang dapat diikuti oleh yang lain. Situs tersebut merupakan pintu gerbang menuju situs-situs lain, dan dapat ditemukan serta tersusun secara topikal dengan cara yang ramah pengguna. R. Christopher Heard dari Pepperdine University menciptakan iTanakh (http://itanakh.org), yang menyediakan informasi tentang studi dan pengajaran akademis tentang Alkitab bahasa Ibrani. Situs tersebut disusun sesuai abjad dan mencakup sejumlah topik yang luas, termasuk arkeologi, bahasa, metode, sarjana, perangkat lunak, dan publikasi.[5]

Sosiolog Robert Wuthnow berpendapat bahwa sejak tahun 1950-an, spiritualitas dalam menghuni ruang-ruang suci secara perlahan memberi jalan kepada spiritualitas dalam pencarian. Spiritualitas tempat tinggal yang tradisional ini mengenali struktur religius tradisional dan terasa aman dalam warisan spiritual yang diturunkan lintas generasi. Batasan-batasan religius digambarkan dengan jelas, dan otoritas religius dihormati sebagai pemelihara hal-hal suci.

Sebaliknya, para pencari tidak memiliki rumah spiritual yang dapat dikenali; mereka adalah penjelajah dan pendatang, bukan penghuni. Mereka menukar kepastian demi kebebasan untuk menjelajah; mereka mengombinasikan berbagai praktik spiritual.[6] Dalam karya barunya, "After the Baby Boomers: How Twenty- and Thirty-Somethings Are Shaping the Future of American Religion" ("Setelah Baby Boomer: Bagaimana Orang Berusia Dua Puluh dan Tiga Puluhan Sedang Membentuk Masa Depan Agama Amerika" _ Red.), Wuthnow mendeskripsikan orang-orang dewasa muda sebagai "tukang otak-atik" yang mengumpulkan sedikit demi sedikit potongan dari budaya, tradisi, sistem kepercayaan, dan latar belakang yang berbeda untuk menciptakan suatu permadani makna.[7] Bagi para tukang otak-atik ini, media elektronik semakin merelatifkan pendekatan mereka terhadap "naskah suci", termasuk Alkitab. Batasan dan makna Alkitab tidak tetap, dan maknanya tidak lagi bersifat universal, atau untuk dipecahkan dan dikendalikan oleh para ahli. Sebaliknya, Alkitab adalah "buku" yang terbuka, yang maknanya dapat dikonstruksi secara aktif oleh pembacanya melalui pembacaan pembanding dari atau dikombinasikan dengan banyak teks dan tradisi lain dalam pasar siber. Konsep ortodoks, warisan, tradisi, dan otoritas terus ditantang.

Suatu Komunitas Interpretatif Baru

Ada isu-isu lain yang perlu dipertimbangkan. Bahkan ketika era digital menuntun menuju menyurutnya dunia dan kompresi ruang dan waktu, ia juga menghasilkan pemisahan digital besar antara mereka yang memiliki dan yang tidak. Meski banyak perhatian tertuju pada bagaimana media elektronik mengubah relasi kita dengan Alkitab, sarjana-sarjana Alkitab Afrika, seperti Musa Dube dan Gerald West mengingatkan kita bahwa sebagian besar dunia belum menikmati manfaat dari teknologi baru. Mereka mendorong kita untuk memerhatikan "para pembaca awam", yang tidak hanya mencakup pembaca nonakademik, tetapi juga mayoritas pembaca dari dunia ketiga yang terasing di sekeliling batas luar struktur ekonomi global. Penyertaan para pembaca awam ini akan memperluas cakrawala moral komunitas interpretatif tersebut, sebab para pembaca ini sering kali memiliki "pengetahuan yang ditekan" yang sangat penting untuk keberlangsungan mereka. Para pembaca ini membaca Alkitab secara pribadi dan dalam kelompok-kelompok kecil guna mencari tahu bagaimana Alkitab menyediakan nafkah untuk pergumulan mereka yang sedang mereka alami terkait makanan, air minum yang aman, dan cara-cara bertahan hidup. Pengalaman membaca dengan para pembaca awam ini, termasuk para perempuan di African Independent Churches (Gereja-Gereja Independen Afrika), berkontribusi pada pembacaan Alkitab pascakolonial dan antiimperial.[8]

Akan prematur jika kita mencoba memprediksi pendekatan dan cakupan pembacaan Alkitab pada abad ke-20, tetapi saya harap para sarjana dan kritikus akan memerhatikan "para penghuni" dan "tukang utak-atik rohani", para ahli Alkitab dan pembaca awam, generasi baby boomer dan generasi net, dan dampak interpretasi media siber pada generasi-generasi yang akan datang.

Catatan

  1. Phil Mullins, "Sacred Text in an Electronic Age," Biblical Theology Bulletin 20 (1990): 101.
  2. Richard Thieme, "Entering Sacred Digital Space: Seeking to Distinguish the Dreamer and the Dream," dalam New Paradigms for Bible Study: The Bible in the Third Millennium, ed. Robert M. Fowler, Edith Blumhofer, dan Fernando F. Segovia (New York: T. & T. Clark International, 2004), 51.
  3. Robert S. Fortner, "Digital Media as Cultural Metaphor," dalam Fowler, Blumhofer, dan Segovia, New Paradigms for Bible Study, 42.
  4. A. K. M. Adam, "This Is Not a Bible: Dispelling the Mystique of Words for the Future of Biblical Interpretation," dalam Fowler, Blumhofer, dan Segovia, New Paradigms for Bible Study, 14.
  5. Lihat Matthew W. Mitchell, "Biblical Studies on the Internet," Religious Studies Review 32, no.4 (2006): 216-18.
  6. Robert Wuthnow, After Heaven: Spirituality in America since the 1950s (Berkeley: University of California Press, 1998), 1-18.
  7. Robert Wuthnow, After the Baby Boomers: How Twenty- and Thirty-Somethings Are Shaping the Future of American Religion (Princeton, N.J. Princeton University Press, 2007), 14-15.
  8. Musa W. Dube, Postcolonial Feminist Interpretation of the Bible (St. Louis: Chalice Press, 2000).

(t/Odysius)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Reflections
Alamat situs : https://reflections.yale.edu/article/between-babel-and-beatitude/holy-bible-30-scripture-digital-age
Judul asli artikel : Holy Bible 3.0: Scripture in the Digital Age
Penulis artikel : Kwok Pui-lan
Tanggal akses : 29 April 2021